MTQ MENJADI AJANG SYI’AR KEISLAMAN HINGGA KE TINGKAT KELURAHAN SERTA RW DAN RT

Reporter/Redaktur/Editor : ENDANG SUMARDI

Seperti ditandaskan Wali Kota Sukabumi, H. Achmad Fahmi, MTQ (Musabaqoh Tilawatil Qur’an) menjadi ajang syi’ar keislaman hingga ke tingkat Kelurahan serta RW dan RT. Selain itu, juga dapat memberikan kontribusi terhadap upaya untuk mewujudkan Visi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Sukabumi, yakni Terwujudnya Kota Sukabumi yang Renyah (Religius, Nyaman dan Sejahtera).

Penandasan tersebut disampikan saat membuka secara resmi MTQ Tingkat Kecamatan Cikole, tepatnya tanggal 30 September 2019, di Aula SMK Negeri 1 Kota Sukabumi, yang mengambil tema, Melalui MTQ kita implementasikan nilai-nilai Al-qur’an dalam kehidupan sehari-hari, demi terwujudnya Kota Sukabumi yang Renyah.

Acara pembukaan MTQ tersebut, dihadiri oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Sukabumi, Ir. H. Cecep Mansur, M.M., para Kepala SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) terkait, para Alim Ulama, Tokoh Masyarakat, Pemuda dan Wanita, serta para tamu undangan lainnya.

Selain itu, Wali Kota Sukabumi mengatan merasa khawatir atas perkembangan teknologi dan dunia industri, dapat menyebabkan keagamaan semakin melemah, serta semakin sedikitnya kegiatan keagamaan. Untuk itu, apabila para kafilah atau peserta MTQ ini hanya mengharapkan gelar kejuaraan dan piala terlalu sederhana. Karena yang sangat penting melalui pelaksanaan MTQ ini, yakni para kafilah atau peserta dapat melakukan syi’ar keagamaan.

Selanjutnya Wali Kota Sukabumi mengharapkan, dakwah syi’ar keislaman harus mampu menyentuh masyarakat ke tingkat Kelurahan serta RW dan RT. Karena dakwah syi’ar keislaman ini, menjadi bagian yang tidak dipisahkan dari perilaku dan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Diharapkan pula, penyelenggaraan MTQ ini tidak hanya dimaknai sekedar peneguhan syi’ar keislaman saja, tapi juga harus bisa dijadikan barometer untuk mengukur hasil atau outcome pembelajaran Al-Qur’an di masyarakat, baik yang dilakukan melalui pendidikan formal di sekolah maupun pendidikan non formal di pesantren, masjid, mushola, majelis taklim dan lain-lain.

Leave a Reply