PEMERINTAH KOTA SUKABUMI MEMBERI PENGHARGAAN KEPADA PARA SANTRI DAN ULAMA

Reporter : ENDANG SUMARDI

Pemerintah Kota Sukabumi memberi penghargaan kepada para santri dan ulama yang ada di Kota Sukabumi, khususnya kepada pendiri Pondok Pesantren Syamsul Ulum Gunung Puyuh Kota Sukabumi, K.H. Ahmad Sanusi, dengan mengabadikan nama ulama tersebut pada sebuah jalan dan terminal, yakni Jalan K.H. Ahmad Sanusi dan Terminal Type A K.H. Ahmad Sanusi Kota Sukabumi. Seperti dijelaskan Walikota Sukabumi, H. Mohamad Muraz, S.H., M.M., pemberian pengharagaan tersebut, sebagai salah satu bentuk nyata apresiasi Pemerintah Kota Sukabumim terhadap jasa para santri dan ulama di Kota Sukabumi. Selain itu, Pemerintah Kota Sukabumi juga sedang berupaya untuk mewujudkan Museum K.H. Ahmad Sanusi Kota Sukabumi, yang lokasinya menurut rencana di sekitar Terminal Type A tersebut. Yang tidak kalah penting, Pemerintah Kota Sukabumi juga sudah merencanakan, bahwa pada setiap menjelang Peringatan Hari Santri, dilaksanakan ziarah ke makam para ulama, yang diawali ke makam K.H. Ahmad Sanusi.

Walikota Sukabumi mengharapkan, dengan telah dilaksanakannya Peringatan Hari Santri Nasional Tahun 2017 Tingkat Kota Sukabumi tepatnya tanggal 22 Oktober 2017, bisa lebih meningkatkan peran serta Pondok Pesantren, para santri dan ulama serta segenap unsur stake holders yang ada di Kota Sukabumi. Maksud dan tujuannya, untuk menunjang kelancaran dan keberhasilan serta kemajuan bangsa dan negara, khususnya di Kota Sukabumi. Terlebih para santri dan ulama, tidak mengenal rumus anti Pancasila dan anti Nasionalisme, apalagi anti NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), serta para santri dan ulama bukan penganut radikalisme.

Dikatakannya, penetapan Hari Santri Nasional tersebut, bukan hanya sekedar pemenuhan janji politik Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo pada saat Kampanye Pilpres (Pemilihan Presiden) RI saja, tapi juga merupakan salah satu bentuk penghargaan pemerintah terhadap peran para santri dan ulama, dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Disamping itu, juga untuk mengenang peran tokoh-tokoh santri, sepertiK.H. Hasyim Asy’ari dari NU (Nahdhatul Ulama), K.H. Ahmad Dahlan dari Muhammadiyah, Ahmad Soorhati dari Al Irsyad, Mas Abdul Rahman dari Mathlaul Anwar dan A. Hasan dari Persis, serta 17 perwira PETA (Pembela Tanah Air) dan yang lainnya. Karena dalam sejarahnya, para santri memiliki peran historis dengan mewakafkan hidupnya, untuk mempertahankan kedaulatan NKRI dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Dikatakan pula, resolusi jihad yang dicetuskan ulama pendiri NU, K.H. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945 di Surabaya, untuk mengatasi kembalinya Tentara Kolonial Belanda atas nama Nica. Seruan jihad membela tanah air dari penjajah tersebut hukumnya fardhu ‘ain atau hukumnya wajib bagi setiap individu. Oleh karenanya, para santri bersama seluruh elemen bangsa Indonesia, pada saat itu bergabung untuk melakukan resolusi jihad dengan cara masing-masing.