BAPPEDA KOTA SUKABUMI MELAKUKAN IDENTIFIKASI LORONG BAWAH TANAH DI KOTA SUKABUMI

Reporter : ENDANG SUMARDI

Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Kota Sukabumi, melakukan identifikasi lorong bawah tanah di Kota Sukabumi, dengan lokasi survei di wilayah Kecamatan Gunung Puyuh dan Kecamatan Warudoyong. Kepala Bappeda Kota Sukabumi, Ir. H. Rudi Djuansyah mengungkapkan, ekspedisi lorong bawah tanah pada masa kolonial Belanda di sekitar pusat Kota Sukabumi, menguatkan dugaan keberadaan lorong bawah tanah yang dibangun, seiring dengan perkembangan pembangunan Kota Praja Kota Sukabumi tahun 1900-an. Lorong bawah tanah ini, diasumsikan sebagai saluran drainase perkotaan pada saat itu. Diungkapkan pula, pada masa kolonial Belanda, pemeliharaan lorong bawah tanah ini dilakukan oleh Dinas Pengelola Kota, yang disebut dengan Blandweer.

Adapun maksud dan tujuan dilaksanakannya kegiatan ekspedisi lorong bawah tanah di Kota Sukabumi pada masa kolonial tersebut, diantaranya menyusun pemetaan data hasil survei, sebagai data hasil identifikasi terhadap keberadaan lorong bawah tanah atau sistem drainase di lokasi sasaran, menentukan titik-titik inlet dan outlet saluran, dimana lorong bawah tanah atau sistem drainase berada di wilayah Gunung Parang dan Warudoyong, serta memberikan rekomendasi mengenai keberadaan benda cagar budaya lorong bawah tanah di Kota Sukabumi.

Sedangkan ruang lingkup kegiatan ekspedisi lorong bawah tanah di Kota Sukabumi pada masa kolonial tersebut, diantaranya mengumpulkan data sekunder terkait dengan lorong bawah tanah dan melakukan survei lapangan, diantaranya melakukan identifikasi panjang, ukuran inlet dan outlet, konstruksi dan struktur saluran, bentuk saluran, informasi lokasi dan posisi saluran, serta informasi fungsi dan tahun pembangunan saluran, termasuk data dokumentasi berupa foto-foto lorong bawah tanah di setiap titik lokasi. Selain itu juga melakukan analisis data temuan hasil survei dan menyusun laporan.

Sementara penentuan sasaran dari kegiatan identifikasi lorong bawah tanah di Kota Sukabumi ini, yakni berdasarkan peta aliran air di wilayah Kota Sukabumi tahun 1946 yang ditertibkan oleh Leiden University, dugaannya adalah peta tersebut merupakan peta yang dirilis paling akhir, yang meng-update data aliran air di Kota Sukabumi versi kolonial Belanda. Karena setelah tahun 1946, Belanda sudah meninggalkan wilayah Indonesia.

Kepala Bappeda Kota Sukabumi menjelaskan, hasil ekspedisi menunjukan, terdapat 20 titik lokasi lorong bawah tanah di wilayah Kecamatan Gunung Puyuh dan Kecamatan Warudoyong, berupa terowongan air yang dibangun pada masa kolonial Belanda. Seluruh lorong bawah tanah tersebut, merupakan sambungan dari lorong bawah tanah serupa di wilayah Kecamatan Cikole sebelumnya. Dijelaskan pula, temuan dalam ekspedisi ini, adalah seluruh lorong bawah tanah yang ditelesuri berupa gorong-gorong, yang berfungsi sebagai saluran drainase, untuk pembuangan limbah dan air. Adapun rata-rata ukuran inlet dan outletnya, yakni lebar 2 meter dan tinggi 2 meter. Sedangkan panjang lorong bawah tanah yang ditemukan bervariasi, mulai dari yang terpendek 1,4 meter di Babakan Sirna, sampai dengan yang terpanjang 43,96 meter di Jalan Pelabuhan. Sementara bentuk inlet dan outlet salurannya, rata-rata berbentuk kotak roti, dengan struktur dan konstruksi bangunannya terbuat dari batu, baik yang diplester maupun yang tidak diplester, dan ketebalan konstruksinya rata-rata antara 0,6 sampai dengan 1,2 meter.