PETANI DARI KOTA SUKABUMI JUARA PERTAMA LOMBA KREASI TANAMAN SAYURAN TINGKAT JAWA BARAT TAHUN 2018

Reporter / Redaktur : ENDANG SUMARDI

Sebanyak 40 Petani dari Kota Sukabumi, berhasil meraih predikat juara pertama Lomba Kreasi Tanaman Sayuran Tingkat Jawa Barat Tahun 2018, dalam rangka memperingati HKP (Hari Krida Pertanian) Ke 46 Tahun 2018 Tingkat Provinsi Jawa Barat, yang dilaksanakan selama 3 hari, tepatnya dari tanggal 27 sampai dengan tanggal 29 Juli 2018, di Stadion Pakansari Cibinong Kabupaten Bogor.

Sekretaris DKP3 (Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan) Kota Sukabumi, drh. Ate Rahmat, M.Si. menjelaskan, seluruh petani perwakilan dari Kabupaten dan Kota se Jawa Barat, menampilkan kreasi dan unggulan pertanian di daerahnya masing-masing. Selain itu, juga menampilkan hasil bertani seperti pangan, holtikultura, peternakan dan perkebunan, serta saling bertukar ilmu pengetahuan tentang pertanian dan cara bertani, untuk menambah pengetahuan dan wawasan serta keterampilan dan kemampuan dalam bertani ke arah yang lebih baik lagi,

Sekretaris DKP3 Kota Sukabumi mengharapkan, dengan meraihnya predikat juara pertama Lomba Kreasi Tanaman Sayuran Tingkat Jawa Barat Tahun 2018 ini, dapat mendorong dan memotivasi semangat para petani lainnya di Kota Sukabumi, khususnya dalam melakukan cipta karsa dan karya dalam meningkatkan dan mengembangkan pertanian, untuk mewujudkan masa depan pertanian khususnya di Kota Sukabumi. Dengan demikian, regenerasi petani di Kota Sukabumi bisa dilaksanakan dengan baik dan lancar.

Karena saat ini, sangat sulit mendapatkan generasi penerus petani di Kota Sukabumi, khususnya dari kalangan pemuda. Sebab para pemuda di Kota Sukabumi sangat jarang yang ingin menjadi petani. Sementara para petani yang ada saat ini di Kota Sukabumi, usianya semakin tua, sehingga diperlukan regenerasi petani. Dikatakannya, hal tersebut dapat menjadi masalah yang signifikan, karena dapat memperburuk masa depan pertanian di Kota Sukabumi.

Dikatakan pula, rendahnya minat para pemuda di Kota Sukabumi untuk menjadi petani, karena stigma atau pandangan warga masyarakat, bahwa menggarap sektor pertanian itu sama dengan menggarap sektor yang miskin, serta kotor dan sangat melelahkan. Untuk itu, solusi yang dilakukan oleh pemerintah, yakni berupaya optimal memperbaiki sekaligus meningkatkan dan mengembangkan teknologi pertanian ke arah yang lebih baik dan lebih modern lagi, supaya banyak pemuda yang ingin menjadi petani.

Leave a Reply