GEDUNG JUANG 45 KOTA SUKABUMI PUSAT PERJUANGAN

Oleh : ENDANG SUMARSDI

Sampai saat ini masih banyak warga masyarakat terutama para pemuda dan remaja, yang belum mengetahui asal-usul nama Gedung Juang 45 Kota Sukabumi, tepatnya di Jalan Veteran II Kota Sukabumi. Kenapa gedung ini disebut atau diberi nama Gedung Juang 45? Bagaimana latar belakangnya sehingga gedung ini dinamai Ge­dung Juang 45? dan mengapa di depan gedung ini dibangun Tugu Monumen Perjuangan berupa Bambu Runcing, Golok dan Senjata Api?

Untuk itu, penulis sengaja menghubungi sekaligus mewawancarai sejumlah pejuang di Kota Sukabumi, beberapa waktu yang lalu. Menurut sejumlah pejuang di Kota Sukabumi, gedung ini dulunya bernama Rumah Bola, kemudian diganti menjadi BPU (Balai Pertemuan Umum). Nama BPU pun diganti lagi menjadi Gedung Pemuda, dan terakhir diganti kembali menjadi Gedung Juang 45 sampai dengan sekarang.

Namun demikian, sejumlah pejuang mengaku tidak mengetahui secara pasti terhadap peristiwa penggantian nama-nama gedung tersebut, baik mengenai hari dan tanggal maupun bulan dan tahunnya. Yang jelas menurut sejumlah pe­juang, latar belakang gedung ini dinamai Ge­dung Juang 45, lantaran gedung ini andilnya sangat besar terhadap keberhasilan warga masyarakat dan para pejuang, khususnya dalam mengambil kemerdekaan dan pemerintahan Sukabumi Si atau Kota Sukabumi dan Sukabu­mi Ken atau Kabupaten Sukabumi dari tangan penjajah, serta berdirinya BKR (Badan Keamanan Rakyat), KND (Komite Nasional Daerah) dan organisasi-organisasi kelasykaran, yang maksud dan tujuannya untuk mempertahankan dan menegakkan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dari rongrongan penjajah.

Sebagaimana yang disampaikan para pejuang, bahwa gema Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, disiarkan ke seluruh pelosok tanah air dan penjuru dunia oleh Ir. Soekarno dan Mochamad Hatta. Pada waktu itu tercatat ada beberapa peristiwa perjuangan pergerakan rakyat di beberapa daerah tanah air, termasuk di daerah Kota Sukabumi dan Kabupaten Sukabumi, yakni mengambil kekuasaan dari tangan penjajah. Adapun salah satu dari peristiwa ter­sebut, yakni mengambil BPU yang seka­rang bernama Gedung Juang 45, tepatnya pada tanggal 21 Agustus 1945 atau 4 hari setelah Proklamasi Kemerdekaan RI.

Para pejuang mengungkapkan, semangat perjuangan rakyat Sukabumi dalam melaksanakan tugas mulia ini, dilakukan secara terorganisir, di bawah pimpinan para tokoh pe­juang dan pemuda, baik di daerah maupun di kota sebagai sentral pengendalian gerakan, dengan berbekal tekad yang kuat dan dilengkapi dengan senjata yang sangat sederhana, yakni Bambu Runcing, Golok dan Senjata-Senjata Api tua, hasil merampas dari tangan tangan penjajah, sebagaimana yang dilukiskan pada tugu monumen perjuangan di depan Gedung Juang 45 Kota Sukabumi.

Dari sejak itu, gedung ini se­cara resmi dijadikan markas tempat berkumpul para pejuang, khususnya dalam merencanakan, merumuskan dan memadukan tekad, sekaligus mengatur strategi perjuangan dalam mem­pertahankan kemerdekaan dan menegakkan NKRI.

Diungkapkan pula, setelah 2 hari gedung ini diambil dari tangan penjajah atau 6 hari setelah Proklamasi Kemerdekaan atau tepatnya pada tanggal 23 Agustus 1945, terbentuklah BKR, KND, Lasykar Rakyat, Barisan Banteng, Barisan Islam Indonesia, Hisbullah, Sabilillah, Pesindo, API, Kelompok Bekas Tahanan Digul dan lain-lain, yang seluruh kegiatannya dipusatkan di gedung ini.

Selanjutnya para tokoh pejuang Sukabumi, yang terdiri dari Dr. Abuhanifah, Mr. R. Syamsudin, Mr. Harun, Edeng Abdullah, R. Sukardi, Ajengan Sanusi, H. Atjun Basjuni, Emo Hardja, S. Walujo, Edi Sukardi, Suryana, Ali Basri dan yang lainnya, di gedung ini mengadakan rapat dan musyawarah, dalam rangka merencanakan mengambil pemerin­tahan Sukabumi Si dan Sukabumi Ken dari tangan penjajah.

Adapun yang menjadi pokok bahasan dalam rapat dan musyawarah tersebut, yakni masalah gerakan dan sasarannya pembebasan tahanan-tahanan politik yang masih ditahan oleh Jepang, Mengibarkan Bendera Merah Putih di seluruh jawatan dan instansi pemerintah serta di pelo­sok daerah Kota Sukabumi dan Kabupaten Sukabumi, sekaligus mendesak kepada pihak Jepang, agar segera melaksanakan serah terima kekuasaan kepada bangsa Indonesia. Sedangkan aksi gerakannya ditetapkan pada hari Senin, tanggal 1 Oktober 1945, setelah Hari Raya Idul Fitri.

Selain itu juga membentuk Panitia Lima, yang orang-orangnya terdiri atas Suryana dari BKR, Sukoyo dari Kepolisian, S. Waluyo dari KND, Abdurohim dari Alim Ulama dan Ali Basri dari Daerah Kecamatan Kecamatan, untuk memimpin gerakan seandainya delegasi ke Bogor gagal.Sesuai dengan hasil rapat dan musyawarah, tepatnya pada hari Senin, 1 Oktober 1945, pukul 06.00 WIB, massa rakyat pejuang yang jumlahnya tidak kurang dari 10.000 orang berduyun-duyun memadati gedung ini, sebagai markas Komando BKR sampai ke Pendopo atau Gedung Negara Kabu­paten Sukabumi, untuk mendengar pengumuman dari delegasi dan menerima komando dari Panitia Lima.

Setelah mendengar pengumum­an yang disampaikan oleh H. Atjun Basjuni bahwa peralihan kekuasaan di tingkat Kota dan Kabupaten pelaksanaannya ditangguhkan karena mengalami kegagalan, maka Panitia Lima memerintahkan kepada para pejuang untuk melaksanakan tiga sasaran yang telah diprogramkan sebagaimana yang telah diputuskan dalam rapat dan musyawarah.Dalam waktu yang tidak lama, para pe­juang kemudian berangkat melaksanakan gerakan pertama sambil mengacungkan sen­jata berupa Bambu Runcing, Golok dan beberapa Senjata Api tua, mengurung kantor Kempetai atau Polisi Tentara Jepang, yang lokasinya sekarang digunakan oleh kantor Inspeksi Pajak dan Badan Pertanahan Kabupaten Sukabumi, membebaskan para tahanan politik, dan hasilnya sangat memuaskan. Karena setelah delegasi menyampaikan maksud dan tujuannya, Jepang bertekuk lutut dan menyerahkan 9 orang tahanan politik. Selain itu, juga senjata-senjata yang ada di kantor tersebut, dapat dirampas dengan mudah oleh para pejuang.

Setelah berhasil membebaskan para tahanan politik dan merampas senjata, dilanjutkan pada gerakan yang kedua, yakni mengibarkan Bendera Merah Putih secara resmi yang pertama kali, dan dipancangkan di Alun-Alun depan Masjid Agung Kota Sukabumi, dipimpin oleh Iskandar, tepatnya di tempat yang sekarang dibangun tugu Bendera Merah Putih yang diapit oleh dua kendi, sebagai ciri bahwa di tempat itu merupakan tempat sejarah perjuangan rakyat Sukabumi.

Selanjutnya melaksanakan gerakan yang ketiga, yakni massa rakyat dibagi menjadi beberapa kelompok menuju sasaran yang telah ditentukan, yakni mengurung kantor Sukabumi Si dan Sukabumi Ken, serta instansi-instansi lainnya seperti Denki atau PLN, Kantor Telepon, Tambang Mas Cikotok, Osamu Dai 10360 Butai Jon Bun Kojo atau sekarang PT Barata, yang dijadikan tempat pembuatan senjata tangan genggam atau granat, dan kini dibangun tugu monumennya Granat di depan PT Barata, tepatnya di jalan Otista (Otto Iskandardinata) Kota Sukabumi.

Kemudian diungkapkan, setelah kedua kantor pemerintahan Sukabumi Si dan Sukabumi Ken dapat diambil. maka diputuskan Mr. Syamsudin sebagai Walikota Sukabumi yang pertama, dan Mr. Harun sebagai Bupati Sukabumi pertama.Demikianlah perjuangan pergerakan rakyat Sukabumi, dalam mengambil kekuasaan pemerintahan dari tangan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan serta menegakkan NKRI.

Kembali kepada nama Gedung Juang 45, setelah mengetahui asal-usul dan sejarahnya, sangat tepat diberi nama Gedung Juang 45. Karena gedung ini merupakan tempat pertama yang dapat diambil dan dikuasai oleh para pejuang.Selain itu juga sangat tepat di depan gedung ini dibangun tugu monumen perjuangan berupa Bambu Runcing, Golok dan Sen­jata Api, sebab sesuai dengan senjata yang digunakan oleh para pejuang pada masa itu. Yang tidak kalah penting, juga sangat tepat para pejuang berkantor di gedung ini, karena sesuai dengan fungsinya setelah gedung ini dapat diambil dan dikuasai oleh para pejuang. Disamping itu, gedung ini juga sangat tepat digunakan acara resepsi dan tasyukur bi nikmat, setelah pelaksanaan upacara memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan Rl pada setiap tanggal 17 Agustus, karena gedung ini sangat besar andilnya terhadap keberhasilan perjuangan rakyat Sukabumi, khususnya dalam mengambil dan mempertahankan kemerdeka­an, serta menegakkan NKRI.***

Leave a Reply