KASUS PENYAKIT DBD DI KOTA SUKABUMI DALAM SETIAP TAHUNNYA SENANTIASA MENGALAMI PENURUNAN

Reporter / Redaktur : ENDANG SUMARDI

Kepala Bidang P2P (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit) Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, dr. Lulis Delawati menandaskan, kasus penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue) di Kota Sukabumi, dalam setiap tahunnya senantiasa mengalami penurunan. Namun demikian, kasus penyakit DBD ini masih menjadi perhatian Pemerintah Kota Sukabumi dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Karena kendati kasus penyakit DBD di Kota Sukabumi ini senantiasa mengalami penurunan, namun apabila dibandingkan dengan kabupaten dan kota lainnya di Jawa Barat masih tinggi.

Adapun kasus penyakit DBD di Kota Sukabumi hingga akhir semester pertama tahun 2018, tepatnya sejak bulan Januari hingga bulan Juni 2018 mencapai 83 kasus. Antara lain, pada bulan Januari 20 kasus, bulan Februari 12 kasus, bulan Maret 17 kasus, bulan April 11 kasus, bulan Mei 9 kasus, dan bulan Juni 14 kasus.

Berkaitan dengan hal tersebut, Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, menghimbau kepada seluruh lapisan warga masyarakat Kota Sukabumi, agar senantiasa berhati-hati dan waspada terhadap kemungkinan munculnya penyakit DBD di lingkungannya masing-masing.

Sedangkan upaya yang harus dliaksanakan oleh warga masyarakat untuk mengantisipasi dan mencegah kemungkinan munculnya penyakit DBD di lingkungannya masing-masing, diantaranya dengan melakukan gerakan kebersihan di lingkungannya masing-masing hingga jarak 100 meter. Sebab Nyamuk Aedes Aegypti sebagai penyebab munculnya penyakit DBD ini, bisa terbang hingga 100 meter.

Selain itu, juga agar secara rutin melaksanakan Gerakan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) serta Kegiatan 3-M, yakni Menutup dan Menguras Bak Penampungan Air, serta Mengubur barang-barang bekas yang dapat digunakan tempat bersarang dan berkembang biak Nyamuk Aedes Aegypti.

Karena upaya pencegahan penyakit DBD melalui fogging atau pengasapan bukan merupakan solusi yang terbaik, sebab tidak baik dan berbahaya untuk kesehatan warga masyarakat. Disamping itu, fogging hanya bisa dilakukan bagi yang sifatnya darurat, seperti terjadinya peningkatan kasus penyakit DBD di salah satu daerah. Itu pun harus dilakukan penyelidikan epidiomologi terlebih dahulu hingga 100 meter dari daerah yang terjadi kasus DBD. Dikatakannya, setelah dilakukan penyelidikan epidiomologi, sebagai salah satu upaya terakhir baru dilakukan foging oleh pihak Puskesmas.

Leave a Reply