BALAI KOTA SUKABUMI SEBELUMNYA MERUPAKAN SEBUAH BANGUNAN BESAR MILIK LIE EK TONG

Reporter/Redaktur/Editor : ENDANG SUMARDI

Hingga saat ini masih banyak masyarakat yang belum mengetahui sejarah Balai Kota Sukabumi dan pemerintahannya. Untuk itu, tim dari LPPL (Lembaga Penyiaran Publik Lokal) Swara Perintis RSPD (Radio Siaran Pemerintah Daerah) 93,1 FM Kota Sukabumi, Situs Resmi Pemerintah Kota Sukabumi, www.sukabumikota.go.id dan Kominfo TV Diskominfo (Dinas Komunikasi dan Informatika) Kota Sukabumi, baru-baru ini melakukan wawacara dengan salah seorang sejarawan sekaligus sebagai Ketua Yayasan Dapuran Kipahare Sukabumi, Irman Firmansyah.

Menurutnya, pada awal terbentuknya Gemeente Sukabumi tanggal 1 April 1914, belum memiliki burgemeester dan kantor sendiri yang representatif, karena ketiadaan anggaran untuk membangun gedung, sehingga harus menumpang atau menyewa bangunan yang ada di Kota Sukabumi. Namun pada bulan Juli 1925 terpilih Burgemeester pertama, G.F. Rambonnet. Selanjutnya pada bulan Oktober 1925, Gemeente Sukabumi menyewa sebuah bangunan besar di Tjikoleweg Nomor 23 milik seorang Pengusaha Tionghoa bernama Lie Ek Tong, untuk kegiatan operasional Staf Gemeente Sukabumi Sementara. Bangunan tersebut berkonstruksi bilik dengan plesteran atau gepleisterd billiken gebouw, yang kemudian digunakan oleh Gemeente Sukabumi sebagai Balai Kota atau door de Gemeente Sukabumi Gebruikt als Gemeentehuis.

Gemeentehuis ini digunakan pada saat ada pertemuan Dewan Gemeente, atau kadang-kadang digunakan untuk tempat peribadatan Jemaat Gereja Reformasi, mengingat jemaat gereja kesulitan melakukan peribadatan dan harus menumpang di sekolah taman kanak-kanak di Selabatu. Burgemeester G.F. Rambonnet. akhirnya memberi solusi dengan menjadikan Kantor Sementara Gemeente Sukabumi sebagai tempat peribadatan. Sedangkan selama status sewa, burgemeester yang merangkap sebagai Sekretaris Gemeente Sukabumi, tidak berkantor di gemeentehuis, tapi berkantor di salah satu rumah di jalan yang sama, yakni Cikoleweg Nomor 15. Pada tahun 1932 terjadi resesi ekonomi, yang mengakibatkan Lie Ek Tong mengalami kebangkrutan. Karena kebutuhan yang mendesak, akhirnya bangunan miliknya yang digunakan Gemeente Sukabumi ini dijual kepada Gemeente Sukabumi  senilai 12.600 Gulden.

Sedangkan proses pembangunan Gemeentehuis berlangsung hingga beberapa bulan lamanya. Dengan sumber daya dan dana terbatas karena resesi ekonomi, akhirnya pembangunan Gemeentehuis selesai dilaksanakan. Sementara untuk mempercantik bangunan Gemeentehuis, diorderlah perabotan senilai 1.000 Gulden, yang dipasok oleh perusahaan van de Pol dari Batavia. Kemudian Stokvis juga menghadirkan lampu mahkota yang indah, dan beberapa perusahaan turut berkontribusi. Selain itu, perusahaan Gebeo atau sekarang PLN, juga turut serta menyumbangkan jam listrik, ditambah lambang Gemeente Sukabumi diapit dua singa dan mahkota emas bertatahkan batu mulia pada bagian atasnya, yang dibuat dan dihadiahkan oleh Braat NV. Lambang tersebut diletakkan di atas pintu masuk Gemeentehuis. Usai menyemangati para Staf Gemeente Sukabumi, Burgemeester G.F. Rambonnet meresmikan Gemeentehuis atau sekarang Balai Kota Sukabumi, tepatnya pada tanggal 22 Februari 1934.

Leave a Reply