Sejumlah Indikator Kinerja Utama (IKU) Pemerintah Kota Sukabumi mencatatkan capaian positif sepanjang periode 2024 hingga 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) serta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dari total 26 indikator yang ditetapkan, sebanyak 20 indikator tercapai 100 persen, sementara enam indikator lainnya berada di atas 80 persen.
Adapun indikator yang mengalami peningkatan adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang pada tahun 2024 sebesar 77,69, dan pada tahun 2025 tercapai 78,19, dan pada tahun 2026 mencapai 78,31. Indeks pendidikan pun mengalami peningkatan dari 72,43 pada tahun 2024, kemudian menjadi 73,63 pada tahun 2025, dan mencapai 74,41 pada tahun 2026.
Sementara itu, Usia Harapan Hidup yang pada tahun 2024 mencapai 75,11, pada tahun 2025 menjadi 75,31, dan tahun 2026 mencapai 75,52. Pada indikator sosial ekonomi, tingkat kemiskinan berhasil ditekan dari 7 persen pada 2024 menjadi kisaran 6,35–7,02 persen pada 2025, dan ditargetkan turun menjadi 6 persen pada 2026. Adapun Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) juga dijaga tetap terkendali di angka 8 persen pada 2024, dengan rentang 7,84–8,54 persen pada 2025, dan kembali ditargetkan 8 persen pada 2026.
Di bidang keamanan dan ketertiban, Indeks Rasa Aman meningkat dari 75,4 pada 2024 menjadi 77,43 pada 2025 dan 77,98 pada 2026. Indeks Kerukunan Umat Beragama juga naik dari 78,16 pada 2024 menjadi 79,27 pada 2026. Indeks Penyelenggaraan Trantibumlinmas turut meningkat dari 75 pada 2024 menjadi 77 pada 2026. Sementara Indeks Warisan Budaya relatif stabil di kisaran 38,85 hingga 38,95.
Dalam aspek kependudukan dan ekonomi, Indeks Pembangunan Berwawasan Kependudukan naik signifikan dari 56,50 pada 2024 menjadi 61,50 pada 2026. PDRB per kapita juga meningkat dari 44,76 pada 2024 menjadi 51,02 pada 2026. “Pertumbuhan ekonomi harus berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat,” ujar Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki.
Di sektor kreatif dan pariwisata, Indeks Kota Kreatif meningkat dari 87,86 pada 2024 menjadi 88,53 pada 2026, sementara rasio penyediaan akomodasi naik dari 3,26 menjadi 3,36. Menurut Ayep, sektor ini menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi baru. “Kota Sukabumi memiliki potensi besar di sektor ekonomi kreatif dan jasa,” katanya.
Ketahanan pangan juga terjaga dengan Indeks Ketahanan Pangan meningkat dari 80,90 pada 2024 menjadi 81,25 pada 2026. Selain itu, rasio terbentuknya pusat pertumbuhan ekonomi baru ditargetkan melonjak menjadi 25 persen pada 2026.
Dalam pengelolaan keuangan daerah, pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah (PAD) meningkat dari 2,47 persen pada 2024 menjadi 12 persen pada 2026. Ayep menyebut, kemandirian fiskal menjadi agenda penting pemerintah kota.
“PAD yang kuat akan memperluas ruang fiskal untuk pembangunan,” tegasnya.
Indeks Kota Layak Huni, Kepuasan Layanan Infrastruktur, serta Indeks Kepuasan Masyarakat juga menunjukkan tren meningkat. Di sisi lain, Indeks Risiko Bencana berhasil ditekan dari 77,56 pada 2024 menjadi 73,56 pada 2026.
Pada aspek tata kelola pemerintahan, Indeks Reformasi Birokrasi tetap berada pada predikat BB, Indeks SPBE meningkat dari 3,79 menjadi 3,87, dan Indeks Pelayanan Publik naik menjadi 4,3 pada 2026.
Indeks Inovasi Daerah mempertahankan predikat Sangat Inovatif sepanjang 2024–2026, sementara Indeks Reformasi Birokrasi General dan Indeks Sistem Merit juga terus meningkat. “Dari 26 indikator, 20 sudah tercapai penuh dan sisanya di atas 80 persen. Ini bukti bahwa kinerja pemerintah daerah berjalan konsisten dan terukur,” pungkas Ayep Zaki.