Reporter : Riksan
Perpustakaan Umum yang berada di bawah pengelolaan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dispusipda) Kota Sukabumi, memiliki fasilitas yang lengkap untuk para pengunjungnya.
Pustakawan Ahli Madya Dispusipda Kota Sukabumi, Retno Widayani, ketika diwawancara pada 15 September 2026 menjelaskan bahwa saat ini perpustakaan yang beralamat di Jalan Perpustakaan Nomor 3, memiliki koleksi lebih dari 80 ribu eksemplar buku dengan 40 ribu judul.
Adapun perpustakaan yang memiliki ruangan baca umum, ruangan baca anak, ruangan sinema, area diskusi, serta ruangan referensi, dibuka hari Senin hingga Jumat dari pukul 08.30 – 16.00 WIB. Khusus hari Sabtu, perpustakaan dibuka dari pukul 09.00 hingga 19.00 WIB.
“Paling ramai itu (pengunjungnya) di hari Sabtu,” jelasnya.
Perpustakaan juga memiliki layanan multimedia dengan menghadirkan sejumlah komputer yang dilengkapi jaringan internet, yang bisa dimanfaatkan oleh pengunjung untuk mengakses sumber literasi online. Perpustakaan Umum Kota Sukabumi memiliki ruangan work from library.
Selain membuka pelayanan di perpustakaan umum, Dispusipda membuka pula layanan di Galeri Literasi yang terletak di Kawasan Lapangan Merdeka dan Alun-alun Kota Sukabumi. Galeri Literasi dibuka setiap hari Sabtu dan Minggu mulai pukul 09.00 hingga 13.00 WIB. Dispusipda juga membuka Pojok Baca Digital (Pocadi) di Mal Pelayanan Publik yang dikelola oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Sukabumi.
Dispusipda Kota Sukabumi mengelola pula sejumlah layanan daring seperti pembuatan kartu anggota secara online melalui website dispusip.sukabumikota.go.id, kemudian aplikasi e-book berbasis android yang dinamakan Sugema. Setiap pekan Dispusipda melalui kanal youtube menghadirkan Cendol atau Cerita dan Dongeng Online.
“Kita sudah menayangkan hampir 300 episode, itu dimulai sejak zaman pandemi covid-19. Setiap seminggu sekali ada yang baru, ini layanan bercerita untuk anak-anak,” tambahnya.
Ia melanjutkan Dispusipda juga terus mengupayakan penerapan inklusi sosial perpustakaan. Salah satu penerapannya adalah dengan digelarnya sejumlah pelatihan keterampilan di perpustakaan umum.
“Perpustakaan itu sekarang tidak hanya tempat membaca, tetapi menjadi pusat berkegiatan. Inklusi itu untuk semua, jadi kita bisa menjadikan apa yang ada di dalam buku, dipraktikkan kalau bisa sampai mensejahterakan diri kita, dari yang belum berdaya menjadi berdaya, bahkan sampai menciptakan lapangan pekerjaan baru,” tandasnya.